Rujak Asem

ada Manis, ada Asem, ada Asin bahkan kadang Pedas

MENGHILANGKAN VOKALISASI DALAM MEMBACA 4 Februari 2010

Diarsipkan di bawah: Bahasa Indonesia — hasansadili @ 08:20
Tags: , , ,

Membaca sambil melafalkan kata-kata yang dibaca dikenal dengan istilah vokalisasi. Dengan cara ini kata-kata berupa tuliskan diwujudkan oleh vokal menjadi sebuah bunyi. Proses vokalisasi mirip dengan proses berbicara atau menyanyi. Membaca dengan melafalkan akan memiliki kecepatan yang kurang lebih setara dengan berbicara. Menurut pakar membaca cepat, kebiasaan membaca seperti ini disebabkan oleh kesalahan metode yang kita gunakan ketika pada masa kecil belajar membaca.

Misalnya metode Phonic yang memperkenalkan abjad dari A s.d. Z yang dilanjutkan dengan mengulang kata-kata. Ada juga metode Lokk say, misalnya kata “Budi” langsung disebut Budi. Biasanya guru bisa mengontrol dan mengoreksi pengucapan siswa. Menurut para ahli bahwa hal ini merupakan salah satu kendala dalam membaca cepat (speed reading), sehingga perlu dihindari.

Kecepatan bicara kurang lebih 120 kata per menit. Dengan kecepatan seperti itu, membaca sebuah artikel terdiri dari dua halaman akan menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit. Cukup lambat dan memakan waktu yang panjang. Orang yang mampu berbicara cepat atau ahli debat dapat memiliki kecepatan bicara sampai 250 kata per menit. Walaupun demikian, kecepatan ini pun masih tergolong lambat. Jadi, jika kita membaca sambil bersuara, maka dapat dipastikan kecepatan membaca yang mungkin dicapai maksimal 250 kata per menit.

Membaca dan proses membaca bersuara merupakan hal yang berhubungan. Hubungannya sangat erat terutama pada orang yang sedang belajar membaca. Hal ini khususnya terjadi pada anak-anak yang sedang dalam tahap belajar membaca dengan belajar huruf atau kata-kata. Penerapan belajar membaca dengan ujar dan ulang ujar akan menjadikan kebiasaan membaca bersuara pada anak-anak.

seseorang membaca sambil bersuara karena terbawa kebiasaan ketika belajar membaca dahulu. Pada saat seorang siswa masih belajar membaca, proses melafalkan kata-kata diperlukan untuk mengetahui apakah dia sudah mampu membaca atau belum. Akan tetapi setelah seseorang semakin dewasa, tentu cara tersebut tidak diperlukan lagi.

Alasan lain adalah secara alami memang kita senang men-dikte-kan kembali apa yang kita baca atau dengar untuk proses memahami dan mengulang. Dengan demikian, tidak mengherankan ada orang yang harus mengucapkan sesuatu keras-keras agar dapat menghafal. Atau ada orang yang harus membaca sambil bersuara baru bisa mengerti. Kita senang mendengarkan kembali apa-apa yang kita baca.

Masalah membaca cepat ini penulis temukan pada siswa-siswi setingkat sekolah dasar di tempat penulis mengajar. Sebagian siswa-siswi yang duduk di kelas IV yang menjadi binaan penulis mengalami masalah dengan cara membaca. Kebiasaan membaca berujar dan tidak terbiasanya membaca di dalam hati menjadi pangkal permasalahan yang ingin diselesaikan oleh penulis dengan mencari solusi yang efektif.

Masih ingatkah kita ketika pertama kali belajar membaca dulu? Ya, kita diajarkan untuk mengeja kata demi kata, suku kata demi suku kata.

I-ni Bu-di

I-ni I-bu Bu-di

Dan seterusnya.

Proses mengeja ini dilanjutkan dengan membaca kata demi kata dengan bersuara agak keras. Dengan demikian, akan diketahui apakah seorang siswa sudah lancar membaca atau belum.

Sebagian orang membawa kebiasaan membaca seperti ini sampai dewasa. Mata dan perhatiannya tertuju pada buku yang dibaca sedangkan mulut melafalkan kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Kebiasaan membaca seperti ini tentu akan menjadi hambatan tersendiri untuk siswa. Hambatan pertama siswa akan sulit membaca cepat atau speed reading. Padahal membaca cepat sangat penting dalam efektifitas waktu membaca. Dengan membaca cepat pembaca dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan waktu yang relatif singkat. Kebiasaan membaca sambil berujar tentu akan menghalangi siswa dalam belajar atau melakukan membaca secara cepat.

Hambatan kedua siswa akan sulit untuk menelaah pokok informasi yang disampaikan dalam sebuah tulisan. Hal ini justru akan menghambat perkembangan pengetahuan siswa terhadap ilmu-ilmu baru yang di pelajarinya. Sulitnya memahami bacaan dengan berujar karena proses penerimaan informasi terhambat oleh gelombang suara yang menjadi titik konsentrasi.

Hambatan ketiga siswa akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi siswa lain yang sudah terbiasa membaca dalam hati. Kebiasaan membaca bersuara pada satu anak tentu akan menimbulkan masalah yaitu hilangnya konsentrasi siswa lain dalam membaca. Hal ini justru merugikan orang lain, untuk itu kebiasaan membaca bersuara harus dihilangkan karena merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

Permasalahan-permasalahan ini menjadi pokok penting bagi penulis untuk mencari apa solusi yang bisa dilakukan penulis agar siswa binaan penulis bisa terbiasa membaca dalam hati dan mengilangkan kebiasaan membaca sambil berujar. Dalam hal ini penulis mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mendapatkan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah membaca bersuara pada anak-anak ini.

Dalam mencari solusi permasalahan membaca bersuara pada anak ini penulis mencari berbagai referensi dan sumber-sumber pengetahuan tentang membaca baik itu dari buku, berbagai artikel baik cetak maupun elektronik. Dari hasil peneleusuran tersebut penulis mendapatkan berbagai macam solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah vokalisasi dalam membaca pada anak.

Vokalisasi dapat dihilangkan jika sadar kapan kita melakukannya dan segera menghentikan saat itu juga. Cara termudah dan praktis adalah dengan meletakkan pensil atau ballpoint diantara kedua bibir ketika membaca. Jika kita melakukan vokalisasi baik bersuara atau tidak, otomatis pensil atau ballpoint tersebut akan jatuh. Ini berfungsi untuk menyadarkan bahwa kita masih melafalkan kata. Hindari hal tersebut dan teruslah berlatih.

Adapun jenis pelafalan lain dalam bentuk lebih halus adalah mengucapkan tidak dengan suara maupun gerakan bibir, melainkan membaca dalam hati. Ini dikenal dengan istilah sub-vokalisasi. Kebiasaan ini termasuk yang paling sulit dihilangkan. Bahkan seorang pembaca cepat yang sudah mampu membaca dua sampai tiga kali rata-rata orang normal biasanya masih membawa kebiasaan tersebut. Para ahli berbeda pendapat tentang sub-vokalisasi. Sebagian mengatakan hal tersebut tidak mungkin dihilangkan dan secara alami pasti akan tetap ada walaupun sangat halus. Sedangkan sebagian lain menyebutkan sub-vokalisasi adalah hambatan yang harus dihilangkan jika ingin membaca jauh lebih cepat lagi. Insya Allah hal ini akan kita bahas dalam tulisan berikutnya.

 

Keterampilan Menyimak 13 Oktober 2009

Diarsipkan di bawah: Bahasa Indonesia — hasansadili @ 00:35
Tags: , ,

Keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dalam hal ini dibagi menjadi empat segi yaitu:

  • Keterampilan menyimak (listening skills)
  • Keterampilan berbicara (speaking skiils)
  • Keterampilan membaca (reading skills)
  • Keterampilan menulis (writing skills)

Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang terakhir mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut diatas pada dasarnya merupakan satu kesatuan dan catur tunggal.

Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir.

Untuk mendapat keterampilan yang lebih jelas, maka berikut ini akan dibahas sepintas kilas hubungan antara keempat keterampilan itu.

  1. Menyimak dan Berbicara

Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung merupakan komunikasi tatap muka atau face to face cominication. (Brooks, 1964:134).

Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata dari hal-hal berikut ini:

1. Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi), oleh karena itu model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara.

2. Kata-kata yang akan dipakai serta kita pelajari biasanya ditentukan oleh pengarang (stimuli) yang ditemui, misalnya: kehidupan desa,kota dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian gagasan-gagasanya.

3.Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.

4. Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata.

5. Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penagkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak.

  1. Menyimak dan Membaca

Menyimak dan membaca mempunyai persamaan, kedua-duanya bersifat reseprif, bersifat menerima. Bedanya menyimak adalah menerima informasi dari sumber lisan, sedangkan membaca menerima informasi dari sumber tertulis. Dengan kata lain menyimak menerima informasi dari perkataan berbicara, sedangkan membaca menerima informasi dari kegiatan menulis.

Keterampilan menyimak juga merupakan faktor penting bagi keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau para ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan antara membaca dengan menyimak sebagai berikut:

a. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan sang siswa untuk menyimak dengan pemahaman.

b. Menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (varbilized learning)

c. Para siswa membutuhkan bimbingan dalam belajar menyimak lebih efektif dan lebih teratur lagi agar hasil pengajaran itu baik.

d. Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.

e. Pembeda-bedaan atau diskriminasi pendengaran yang jelek sering kali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu faktor pendukung atau faktor tambahan dalam ketidakmampuan membaca (poor reading)

Selagi keterampilan-keterampilan menyimak dan membaca erat berhubungan, maka peningkatan pada yang satu huruf pula menimbulkan peningkatan pada yang lain, kedua-keduanya merupakan proses yang saling mengisi.

Selanjutnya seorang pakar lain mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

*.Baik membaca maupun menyimak menuntut dari para siswa pemilikan suatu kesiapan kecakapan. Hal ini mencakup kedewasaan mental, kosa kata kemampuan mengikuti urutan ide-ide, dan minat terhadap bahasa

*.Baik dalam membaca maupun menyimak biasanya kata bukanlah merupakan kesatuan pemahaman terhadap frase,kalimat,dan paragraph.

* Membaca maupun menyimak dapat berlangsung dalam situasi-situasi individual atau social.

* Untuk meningkatkan hasil yang hendak dicapai dalam membaca, maka seyogianyalah setiap keterampilan menyimak diikuti oleh kegiatan membaca yang sesuai dengan tujuan menyimak tersebut.

Adapun hubungan antara tujuan menyimak dan kegiatan membaca yaitu:

Tujuan Menyimak Kegiatan Membaca
Untuk membedakan dan menemukan

Unsure-unsur fonetik dan struktur kata lisan.

Mempergunakan cuplikan-cuplikan yang mengandung kata-kata yang bersajak.
Untuk menemukan dan memperkenalkan bunyi-bunyi, kata-kata, atau ide-ide baru kepada penyimak. Membaca nyaring, langsung atau buatan,dalam hal ini rekaman dapat digunakan.
Menyimak serta terperinci agar dapat mengiterprestasikan ide pokok dan menanggapinya secara tepat. Sesudah menyimak, menunjukkan ide-ide beserta detail-detai yang terpancar darinya.

.

  1. Berbicara dan Membaca

Beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perkembangan kecakapan lisan dengan kesiapan membaca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut memperlengkapi suatu latar belakang pengalaman yang menguntungkan serta ketentraman bagi pengajar membaca. Kemampuan tersebut mencakup ujaran yang jelas dan lancer. Kosa kata yang luas dan beraneka ragam. Penggunaan-penggunaan kalimat lengkap dan sempurna bila diperlukan, pembedaan pandangan yang tepat, dan kemampuan mengikuti serta menelusuri perkembangan urutan suatu cerita atau menghubungkan aneka kejadian dalam urutan yang wajar.

Aneka hubungan antara bidang kegiatan lisan dan membaca telah dapat kita ketahui dalam beberapa telaah penelitian antara lain:

  • Penformansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan.
  • Polo-pola ujaran orang yang tuna aksara atau buta huruf mungkin sekali mengganggu pelajaran membaca bagi siswa-siswi.
  • Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung, andaikata muncul kata-kata baru dalam buku bacaan siswa, maka hendaklah guru mendiskusikannya dengan siswa agar mereka memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.

D .Ekpresi Lisan dan Ekspresi Tulisan

Adalah wajar bila komunikasi lisan dan komunikasi tulisan erat sekali berhubungan karena keduanya mempunyai banyak kesejajaran bahkan kesamaan, yaitu:

v Seorang siswa belajar berbicara jauh sebelumnya dia dapat menulis, dan kosa kata, pola-pola kalimat, serta organisasi ideide yang memberi ciri-ciri kepada ujarannya merupakan dasar bagi ekspresi tulis berikutnya.

v Aneka perbedaan pun terdapat antara komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Ekspresi lisan cenderung kea rah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetep, tetapi biasanya lebih kacau serta membingungkan dibandingkan ekspresi tulis. Kebanyakan pidato atau pembicaraan bersifat informal, dan sering kali kalimat-kalimat orang yang berpidato atau yang berbicara itu tidak ada hubungannya satu sama lain.

v Membuat catatan serta merakit bagan atau kerangka ide-ide yang akan disampaikan pada suatu pembicaraan akan menolong kita untuk mengutarakan ide-ide tersebut kepada para pendengar. Biasanya bagan yang dipakai sebagai pedoman dalam berbicara sudahlah cukup memadai kecuali dalam kasus laporan formal dan terperinci yang memerlukan penulisamn naskah yang lengkap sebelumnya.

Agar kita mendapat gambaran yang jelas mengenai keempat jenis keterampilan berbahasa tersebut serta hubungannya satu sama lain, marilah kita perhatikan dibawah ini;

Langsung Langsung
Apresiatif Komunikasi Berbicara produktif
Reseptif Menyimak Tatap muka Ekspretif
Fungsional
Keterampilan Berbahasa

Tak langsung produktif

ekspresif

Menulis

Komunikasi tidak tatap muka

Tak langsung

Membaca, afresiatif, reseptif

Fungsional

KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara beraneka ragam.
  2. keterampilan bahasa yang dalam bahasa inngris disebut “language (art and skills)” istilah art “seni,kiat” dipergunakan untuk melukiskan sesuat yang bersifat personal, kreatif, dan original. Sebaliknya kata skills “keterampilan” dipakai untuk menyatakan sesyatu yang bersifat mekanis,eksak, impersonal.
  3. menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat intuk menerima komunikasi.
  4. beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perkembangan kecakapan berbahasa lisan dengan kesiapan membaca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut memperlengkapi suatu latar belakang pengalaman yang menguntungkan serta ketentraman bagi pengajaran membaca.

 

Pengertian Sastra Secara Umum dan Menurut Para Ahli 3 Oktober 2009

Diarsipkan di bawah: Tentang Sastra — hasansadili @ 13:22
Tags: , , , ,

musikalisasi-puisi

Sastra Dalam Pengertian Umum

Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Sastra dibagi menjadi 2 yaitu Prosa dan Puisi, Prosa adalah karya sastra yang tidak terikat sedangkan Puisi adalah karya sastra yang terikat dengan kaidah dan aturan tertentu. Contoh karya Sastra Puisi yaitu Puisi, Pantun,  dan Syair sedangkan contoh karya sastra Prosa yaitu Novel, Cerita/Cerpen, dan Drama.

Pengertian Sastra Menurut Para Ahli

Mursal Esten (1978 : 9)

Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).

Semi (1988 : 8 )

Sastra. adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Panuti Sudjiman (1986 : 68)

Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapanya.

Ahmad Badrun (1983 : 16)

Kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain sebagai alai, dan bersifat imajinatif.

Engleton (1988 : 4)

Sastra adalah karya tulisan yang halus (belle letters) adalah karya yang mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan, dijadikan ganjil.

Plato

Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.

Aristoteles

Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat.

Robert Scholes (1992: 1)

Tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda

Sapardi (1979: 1)

Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.

Taum (1997: 13)

Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif” atau “sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain”

 

Sendiri.. 24 September 2009

Diarsipkan di bawah: Percikan Kesedihan — hasansadili @ 00:43

Menyebut keterasingan adalah teman

dalam hidup

memang bukan sekedar wacana

Sejak asa tertinggal oleh belahan belahan

kasih yang pergi

adalah kerinduan yang tersisa

Menyempatkan memanggil namamu

sebelum mataku redup

dan terbawa ke alam bawah sadar

adalah makanan yang khas untuk disantap

Dalam mimpipun

ternyata aku tetap kehilangan

sosok yang selama ini

selalu membalut setiap tetes airmata

yang mengalir di pipiku

sosok yang selama ini

selalu membuat hatiku terjaga dari kesedihan

Kini sendiri adalah sepi

yang membelenggu mimpi

menjadi khayalan masa lalu

kini sendiri adalah teman sejati

yang menemani di dalam mimpi

 

Sabda Nirwana 24 September 2009

Diarsipkan di bawah: Aneka Puisi — hasansadili @ 00:30
Tags: , ,

Sentuh sudut hatimu

dengan tangan-tangan asa

rasakan setiap nafas

yang membacakan kalimat kasih

terjemahkan bahasa cintanya

dengan kamus bahasa nirwana

tafsirkan dengan ilmu tentang ketulusan

Rasakan lagi setiap jiwa yang bergetar

tangkap dengan hati

apa yang menjadi pesan

pilih setiap kata yang bermakna

dan artikan dengan penuh kesungguhan

Lihatnlah ke arah mana mata memandang

adakah kuntum-kuntum bunga yang merekah

dibalik senyum penggembala yang  kehausan

Lihat lagi siapa yang bicara

perhatikan dengan sungguh

setiap nada, irama, dan suasana yang terkata

pastikan yang terlontar adalah bambu cinta

pastikan yang melayang adalah panah asmara

cintakah yang memberi kebahagiaan

maka sambutlah dengan penuh ketulusan

bila siapa bertanya cinta

katakan ini sabda nirwana

 

HIJRAHKAN AKU KE JALANMU 23 September 2009

Diarsipkan di bawah: Aneka Puisi — hasansadili @ 13:06
Tags: , , ,


Ya Allah…ya tuhanku…

Lihatlah aku saat ini

Penuh goresan pena Dan lumuran dosa

Penuh kegundahan dan putus asa

Bukan aku yang dulu

Yang menangis memanggil ibu

Yang menggumam memanggil ayah

Yang kurasa tak berdosa

Ya Allah ..Ya Rabbi…

Aku tak sanggup lagi berjalan

Dipundakku terlalu banyak beban

Bukan sekedar beban pikulan

Tapi beban dosa Ya Allah

Bukan aku yang dulu senang berlari

Meski sering terjatuh

Bukan aku yang dulu senang merangkak

Meski tak kuat

Kini aku manusia penuh dosa

Aku nista dan penuh cela

Maka ya Allah …

hanya satu pintaku saat ini..

Ya Allah ya Rabbi…

Hijrahkan aku ke jalanmu…

Agar siksamu nanti

tak terlampau berat untuk kulalui

 

Bila Ada 23 September 2009

Diarsipkan di bawah: Puisi Jatuh Cinta — hasansadili @ 12:34
Tags: , ,

Bila ada kuntum bunga

yang mampu bicara

tentang perasaan ini

akan kupetik dia

dan ku kirim kepadamu

lewat angin yang berhembus

Bila ada mutiara

yang mampu

mengungkap perasaan ini

dengan keindahannya

akan ku ambil dia

dan kukirim kepadamu

bersama perahu yang berlayar

di pijak-pijak kehidupanku

Bila Puisi ini

bisa membuat kau mengerti

tentang perasaan ini

Aku takkan ragu lagi

dan kukirim puisi ini

pada Merpati

yang kan hinggap

di jendela istanamu

 

Melati Putih… Jangan Bersedih… 23 September 2009

Diarsipkan di bawah: Percikan Kesedihan — hasansadili @ 12:31
Tags: , ,

Aku terjaga…

Melihat kau termenung

Wajahmu sayu

Diantara senyum kemuraman

Aku tak bisa berbuat banyak

Untuk meredakan kepedihanmu

Betapapun aku sangat ingin menghiburmu

Mengembalikanmu dari keterpurukan

Melati Putih..

Jangan bersedih…

Angina memang kencang

Tapi kau harus tetap bertahan

Diantara kemelut dunia

Yang semakin menyita pikiran

Melati puith bersabarlah..

Perjalanan masih panjang

Untuk sampai ketujuan

Dan kau

Harus selalu ingat

Setelah gelap..

Akan terbitlah terang

 

Melati Putih 23 September 2009

Diarsipkan di bawah: Percikan Berbunga Bunga — hasansadili @ 12:30
Tags: , ,

Biarkanlah aku memandangmu

Tak bosan meski berjam-jam

Biarkanlah aku didekatmu

Menerawang wajah dan isi hatimu

Biarkanlah aku tertegun didepanmu

Terdiam, membisu

Menatap indah senyummu

Kau adalah kuncup bunga

Di taman khayalanku

Kau melati putih

yang kelak

Akan mengharumkan kehidupanku

Indahmu…

Membuat aku

ingin menjadi tangkai pijakanmu

dan menggantikan tangkai-tangkai

Tempat kau berpijak selama ini

Tapi kau masih kuncup

Penuh kepolosan dan keluguan

Melati putih..

Suatu saat kau kan mekar

Menjadi sesosok yang mengagumkan

Dan saat itu…

Aku ingin menjadi tangkaimu

Agar aku selalu dapat berada disismu

Bungaku…

Janganlah kau berpaling

Karna aku akan sedih

Kalau kau mencari tangkai yang lain

Melati Puith…

Untuk saat ini

Aku hanya bahagia

Bila bersama denganmu

 

Siksa Hati 23 September 2009

Diarsipkan di bawah: Percikan Kesedihan — hasansadili @ 12:28
Tags: , ,

Aku yang berada di persimpangan

antara kebencian atau kasih saying

Persimpangan itu bernama cinta

Manis,  pahit, dan segala rahasianya

Seharusnya …

Aku tak berada di persimpangan itu

Seharusnya aku memilih

salah satu jalan diantaranya

Seharusnya aku berada diantara

Cahaya-cahaya yang menyinari

Diantara bunga-bunga yang semerbak

Tersenyum bersama rautku yang muram

Tapi…..

Tak bolehkah rautku tersenyum

Walau berada

diantara kepekatan-kepekatan

yang sini dan memusuhi

Haruskah mulutku berbohong

Demi senyum-senyum indah menawan

atau haruskah aku tersenyum

Meski senyum-senyum itu tak lagi menawan