<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Asem Manis</title>
	<atom:link href="http://asemmanis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asemmanis.wordpress.com</link>
	<description>Asem Manis Bahasa dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 01:48:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='asemmanis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/314ca96d07dbc31b80c20cb06d769e93?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Asem Manis</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://asemmanis.wordpress.com/osd.xml" title="Asem Manis" />
	<atom:link rel='hub' href='http://asemmanis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Analisis Psikologis Tokoh “Kakek” Dalam Cerita Pendek Robohnya Surau Kami Karya A. A. Navis</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2012/01/06/analisis-psikologis-tokoh-kakek-dalam-cerita-pendek-robohnya-surau-kami-karya-a-a-navis/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2012/01/06/analisis-psikologis-tokoh-kakek-dalam-cerita-pendek-robohnya-surau-kami-karya-a-a-navis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 01:41:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikosastra]]></category>
		<category><![CDATA[Robohnya Surau Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Pendek “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang seorang Kakek penjaga Surau yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Surau yang dulu dijaga dan dirawatnya kemudian menjadi tidak terurus dan tinggal menanti robohnya saja. Dalam cerpen ini Kakek diceritakan mengalami gejolak batin yang luar biasa yang menyebabkan dirinya stress, depresi, dan frustasi. Kakek yang taat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=123&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://asemmanis.files.wordpress.com/2012/01/surau2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-127" title="Surau" src="http://asemmanis.files.wordpress.com/2012/01/surau2.jpg?w=300&#038;h=202" alt="" width="300" height="202" /></a>Cerita Pendek “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang seorang Kakek penjaga Surau yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Surau yang dulu dijaga dan dirawatnya kemudian menjadi tidak terurus dan tinggal menanti robohnya saja. Dalam cerpen ini Kakek diceritakan mengalami gejolak batin yang luar biasa yang menyebabkan dirinya stress, depresi, dan frustasi. Kakek yang taat beribadah diberikan analogi oleh seorang tokoh Ajo Sidi tentang nasib orang yang taat beribadah ketika berada diakhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam analoginya Ajo Sidi menceritakan tentang Haji Soleh yang dijebloskan ke neraka. Padahal selama di dunia dia rajin dan taat beribadah. Selain itu Haji Soleh sudah menyempurnakan keislamannya dengan berangkat ke tanah suci dan menjadi Haji. Mendengar cerita Haji Soleh terebut Kakek menjadi marah luar biasa karna merasa kehidupannya sama persis seperti Haji Soleh.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena merasa perbuatannya menjadi sia-sia Kakek mengalami kemarahan luar biasa terahadap Ajo Sidi dan lebih dalam lagi kemarahan terhadap dirinya sendiri. Sampai pada akahirnya Kakek diceritakan bunuh diri dengan menggogok lehernya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sosok Kakek dalam cerpen ini mengalami berbagai situasi. Sosok Kakek yang semula dikenal taat dan sederhana berubah 180 derajat menjadi sosok yang durja, penuh dendam, dan namun juga mengalami keputusasaan. Berikut sebuah kutipan saat Kakek mengalami hal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, &#8220;Pisau siapa, Kek?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Ajo Sidi.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Ajo Sidi?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kutipan tersebut Kakek digambarkan mengalami rasa marah yang luar biasa. Meskipun kemarahannya itu tidak ditunjukkan dengan tindakan merusak yang membabi buta melainkan ditunjukkan dengan penekanan terhadap jiwa. Seperti sebuah pergolakan yang begitu dahsyat, menyalahi diri sendiri, dan membunuh semua jalan keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemarahan adalah suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin dan noradrenalin. Rasa marah menjadi suatu perasaan yang dominan secara perilaku, kognitif, maupun fisiologi sewaktu seseorang membuat pilihan sadar untuk mengambil tindakan untuk menghentikan secara langsung ancaman dari pihak luar. Dengan demikian ada sebuah tekanan besar yang dialami Kakek, sebuah tekanan yang secara langsung atau tidak langsung menghambat atau mengganggu jiwanya yang secara jelas mengganggu pula terhadap keberlangsungan hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ekspresi kemarahan Kakek ditunjukkan dengan Ketidakgembiraannya menyambut tamu yang merupakan tokoh Aku yang tentu saja bukan tindakan seperti biasanya. Lalu eksperesi yang lain yang melukiskan kemarahannya terdapat pada raut mukanya yang muram, pandangannya yang sayu, dan tingkah prilaku kakek yang <em>duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. </em>Ekspersi-ekspresi tersebut memberikan gambaran yang gamblang tentang kemarahan sang Kakek.</p>
<p style="text-align:justify;">Ekspresi kemarahan Kakek juga ditunjukkan dengan menyebut sosok yang membuatnya dalam kondisi tersebut. Ada sebuah tekanan besar ketika Kakek menyebut nama tersebut. Rasa kesal yang begitu besar dan rasanya berat untuknya mengucapkan nama tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Ajo Sidi.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Ajo Sidi?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemarahan Kekek selanjutnya diluapkan dengan kata-kata yang lebih panjang. Dalam situasi ini ada sebuah tempat untuk Kakek mengungkapkan apa yang dialaminya. Tempat luapan emosi Kakek adalah tokoh Aku. Kepada tokoh Aku lah Kakek mengungkapkan tentang semua yang dialami olehnya sebelumnya. Berikut kutipan ceritanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. &#8220;Apa ceritanya, Kek?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Siapa?&#8221;<br />
&#8220;Ajo Sidi.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Kurang ajar dia,&#8221; Kakek menjawab.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya.&#8221;<br />
&#8220;Kakek marah?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Begitlah, meski sepintas Kakek mengatakan bahwa <em>&#8220;Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya”. </em>Maksud Kakek tersebut bahwa dia sudah lama tidak marah-marah yang diekspresikan dengan tindakan yang merusak, tindakan menyerang lawan, maupun menyakiti. Kemarahan yang dialami Kakek adalah kemarahan pasif, Kemarahan yang hanya bisa diekpresikan dengan sikap dan prilaku internal.</p>
<p style="text-align:justify;">Puncak dari segelombang permasalahan yang Kakek alami adalah ketika dia melakukan diri. Teori-teori psikologi tentang bunuh diri, fokus pada pikiran dan motivasi dari orang-orang yang melakukan percobaan bunuh diri (Barlow &amp; Durand, 2002). Teori-teori psikologi humanis-eksistensialis misalnya, menghubungkan bunuh diri dengan persepsi tentang hidup yang sudah tidak mempunyai harapan atau tidak mempunyai tujuan yang pasti. Beck (dalam Halgin &amp; Whitbourne, 2003) mengatakan bahwa bunuh diri adalah ekspresi dari hilangnya harapan yang dicetuskan oleh ketidakmampuan individu dalam mengatasi stres. Inilah kutipan saat Kakek diceritakan melakukan bunuh diri.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.<br />
&#8220;Siapa yang meninggal?&#8221; tanyaku kaget.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Kakek.&#8221;<br />
&#8220;Kakek?&#8221;<br />
&#8220;Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.&#8221; </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,&#8221; kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.<br />
</em>Seperti dikemukakan dalam teori-teori diatas yang menyimpulkan bahwa bunuh diri adalah sebuah tindakan keputusasaan yang tidak lagi terdapat jalan keluar, tidak lagi ada harapan, dan tidak ada kemampuan untuk mengembalikkan keadaan. Situasi Kakek mencerminkan hal tersebut. Pertama, Kakek merasa apa yang telah dilakukannya selama ini di dunia menjadi sia-sia. Segala ibadahnya yang menjadi tumpuan harapannya selama ini menjadi sia-sia karna persepsi yang dikemukakan tokoh Ajo Sidi berbanding terbalik dengan apa yang dipahaminya dan dijalankan selama ini. Celakanya Kakek memahami betul kebenaran yang dikatakan Ajo Sidi. Secara tersirat Kakek mempercayai apa yang dikemukakan Ajo Sidi yang dalam cerita ini disebut “Bualan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Ajo Sidi dalam ceritanya mengemukakan bahwa orang yang hidup didunia hanya beribadah dengan menyembah dan memuji-muji Tuhan saja dan mengabaikan apa yang ada disekelilingnya tidaklah mungkin akan dihadiahi surga oleh Tuhan. Justru sebaliknya orang yang hidup di dunia hanya untuk beribadah dalam rangka mencari keselematan diri sendiri berada pada situasi kecelekaaan yang luar biasa. Disebut dalam cerpen ini bahwa orang yang mengabaikan hal-hal disekitar adalah “Umpan Neraka”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh Kakek dalam hal ini menyimpulkan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar hanya menymbah Tuhan dengan memuji-muji namanya. Dia mengabaikan kemiskinannya yang membuat anak cucunya miskin pula, Ia mengabaikan kehidupan dunianya sehingga orang mungkin tidak terlalu menghargai dia, dan dia tidak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya tentang keadaan mereka, apakah mereka hidup cukup, apakah keluarganya sudah berada di jalan Tuhan. Kakek hanya memikirkan bagaimana agar dia selamat masuk surga saat berada di akhirat. Makanya itu Kakek melakukan upaya-upaya (Beribadah) untuk bisa sampai ke surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat pemahamannya tentang interpretasi ketuhanan dan surga terbantahkan oleh uraian Ajo Sidi. Kakek mengalami guncangan luar biasa. Dia merasakan kecendrungan bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Celakanya kesalahannya itu dilakukannya selama bertahun-tahun. Mengingat usianya yang memang sudah tua, Kakek kemudian merasa tak ada jalan keluar untuk memperbaiki semuanya. Dia berpikir bahwa kesalahan yang dilakukannya tidak dapat diperbaiki. Namun ia juga tak mau begitu saja masuk neraka atas segala ibadah yang dilakukannya. Dalam situasi tekanan berat itulah Kakek mengalami goncangan luar biasa antara hidup dan mati. Lalu untuk mengakhiri segala tekanan hidupnya yang tak kuat lagi ia tanggung, maka bunuh dirilah Ia.</p>
<p style="text-align:justify;"> Teori kognitif-behavior meyakini jika kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap memberikan kontribusi terhadap terjadinya perilaku bunuh diri. Konsistensi prediksi yang tinggi dari variabel kognitif terhadap bunuh diri adalah kehilangan harapan (hopelessness), perasaan jika masa depan sangatlah suram dan tidak ada jalan untuk menjadikan hal tersebut menjadi lebih baik atau positif (Beck, dkk., dalam Hoeksema, 2001). Adanya pemikiran yang bercabang (dichotomous thinking), kekakuan dan ketidak luwesan dalam berpikir menjadi penyebab seseorang bunuh diri. Kekakuan dan ketidak luwesan tersebut menjadikan seseorang kesulitan dalam menemukan alternatif penyelesaian masalah sampai perasaan untuk bunuh diri yang dirasakan oleh orang tersebut menghilang.</p>
<p style="text-align:justify;">Karakteristik perilaku yang menunjukkan atau yang menjadi penyebab seseorang melakukan bunuh diri adalah impulsifitas. Perilaku ini (impulsif), akan semakin berisiko jika terkombinasikan dengan gangguan psikologis yang lain, seperti depresi atau tinggal di lingkungan dengan potensi untuk menghasilkan stres yang tinggi (Hoeksema, 2001).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=123&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2012/01/06/analisis-psikologis-tokoh-kakek-dalam-cerita-pendek-robohnya-surau-kami-karya-a-a-navis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asemmanis.files.wordpress.com/2012/01/surau2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Surau</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MELIHAT JATI DIRI BANGSA MELALUI BAHASA INDONESIA</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2011/01/04/melihat-jati-diri-bangsa-melalui-bahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2011/01/04/melihat-jati-diri-bangsa-melalui-bahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 02:01:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jatidiri bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[keunikan bahasa indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang terbentuk dari beraneka ragam suku dan budaya. Bangsa Indonesia adalah cermin kemajukan ditunjang dengan berbagai simbol pemersatu bangsa. Salah satu jembatan pemersatu itu bernama Bahasa Indonesia. Sejak kali pertama diproklamirkan pada Sumpah Pemuda 1928 pada butir ke 3 yaitu “Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=116&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://asemmanis.files.wordpress.com/2011/01/bhasa-indo.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-117" title="bhasa indo" src="http://asemmanis.files.wordpress.com/2011/01/bhasa-indo.jpg?w=300&#038;h=223" alt="" width="300" height="223" /></a>Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang terbentuk dari beraneka ragam suku dan budaya. Bangsa Indonesia adalah cermin kemajukan ditunjang dengan berbagai simbol pemersatu bangsa. Salah satu jembatan pemersatu itu bernama Bahasa Indonesia. Sejak kali pertama diproklamirkan pada Sumpah Pemuda 1928 pada butir ke 3 yaitu “Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai bagian erat bangsa Indonesia, Bahasa Indonesia memiliki kedudukan istimewa. Selain itu bahasa adalah cermin dari karakter bangsa seperti sebuah kutipan “Bahasa Itu Menunjukkan Bangsa”. Dari kutipan tersebut sudah jelas bahwa cara masyarakat menggunakan bahasa menunjukkan cara berfikir masyarakat. Mengapa demikian? Karena bahasa adalah hasil dari sebuah pemikiran. Seperti dikatakan Stephen R Covey, seorang pakar psikologi menyatakan, bahwa suatu ucapan (hasil bekerjanya lidah dan bibir) itu terlahir sebagai hasil dari proses berfikir (pikiran).</p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahannya adalah masyarakat Indonesia saat ini menggunakan  bahasa seringkali tidak pada tempatnya. Setidaknya ada 5 hal yang harus digarisbawahi tentang bagaimana masyarakat Indonesia menggunakan bahasanya. Diantaranya sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Bahasa global yang menggejala</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh globalisasi sudah sedemikian hebatnya. Pengaruh tersebut menyentuh berbagai aspek kehidupan mulai dari aspek sosial, budaya, politik sampai bahasa. Tidak adanya batas wilayah baik antar daerah maupun  antar negara menyebabkan berbagai pengaruh masuk tanpa bisa dibendung. Pengaruh yang sangat dirasakan oleh kita adalah bagaimana bahasa menjadi terpengaruh. Pengaruh yang timbul salahsatunya tampak dalam penggunaan bahasa yang bercampur-campur baik itu bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, bahasa Indonesia dengan bahasa asing bahkan penggunaan bahasa Indonesia disampur dengan bahasa daerah dan bahasa asing. Contoh sederhananya adalah bagaimana pemuda di kota menggunaka kata <em>“Gue”</em> <em>dan</em> “<em>Loe”</em>sebagai penggati “saya” atau “aku” dan “kamu”. Gejala ini ternyata tidak hanya terjadi di kota besar. Pengaruh ini sampai ke pelosok-pelosok negeri akibat derasnya arus informasi. Tidak hanya sampai disini. Bahasa Indonesiapun kerap kali digabungkan dengan bahasa Inggris. Misalnya ketika seseorang minta maaf, “Maaf ya <em>Just Kidding</em>”. Lalu apa masalahnya? Melihat masalah ini kita bisa melihat jelas bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang tidak berkarakter karena cenderung menerima dan berusaha mencari kebenaran dari sebuah informasi yang didapatkan. Selain itu melalui masalah ini pula kita bisa merasakan bahwa kebanyakan bangsa Indonesia tidak menghargai Bahasa Indonesia sebagai salah satu hasil perjuangan puta putri bangsa. Prilaku berbahasa seperti ini dapat menyebabkan Bahasa Indonesia kehilangan identitas. Betul bahwa bahasa Indonesia banyak menyerap kata asing tapi tidak menyerap kata itu dengan mentah-mentah melainkan melalui proses yang benar dan tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Bahasa “Asal Nyambung”</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Banyak orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia dengan <em>nyeleneh. </em>Alasannya bahasa adalah alat komunikasi jadi tidak perlu dipersulit bagaimana cara menggunakannya. Padahal bahasa lebih dari sekedar alat komunikasi. Jauh dari itu Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Oelh karna itu sikap bangga terhadap bahasa Indonesia harus ditumbuhkan di setiap dada orang Indoensia. Namun kenyataan yang terjadi adalah banyak diantara Mereka menggunakan bahasa Indonesia “asal orang mengerti”. Muncullah pemakaian bahasa Indonesia sejenis bahasa prokem, bahasa plesetan, dan bahasa jenis lain yang tidak mendukung perkembangan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bila begitu keadaanya bahwa menggunakan bahasa cukup dengan <em>asal nyambung</em> dianggap sebagai sebuah kebenaran. Lalu untuk apa di buat aturan bahasa baku (bahasa lisan) dan Ejaan Yang Disempurnakan (bahasa tulis). Bukankah itu adalah hal yang mubazir jika tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya pikir saat ini sudah saatnya menggunakan bahasa berpedoman pada aturan seperti halnya aturan bahasa baku maupun EYD.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Penggunaan bahasa asing yang tidak tepat</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Masalah yang tidak kalah besar yang dihadapi bahasa Indonesia saat ini adalah merebaknaya penggunaan bahasa asing. Penggunaan bahasa asing yang cukup dominan di negeri ini menyebabkan kita bertanya-tanya, apa kekurangan bahasa Indonesia sehingga kita harus menggunakan bahasa asing dengan mentah-mentah. Penggunaan bahasa asing ini bukan hanya pada bahasa tulis seperti yang banyak tertera pada nama-nama mal, perumahan, berbagai merk produk, dan lain sebagainya. Namun juga penggunaan bahasa asing dalam berbahasa lisan. Kita bisa melihat setiap hari ditelevisi banyak tokoh publik menggunakan bahasa asing. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Tokoh publik adalah figur bagi masyarakat yang senantiasa menjadi tiruan masyarakat. Kalau sudah begini lalu bagaimana?. Diperlukan kesadaran semua pihak untuk untuk kembali menggunakan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Sikap tak acuh dalam berbahasa Indonesia</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Dengan sedemikian kencangnya arus perubahan zaman. Pengguna bahasa Indonesia belum sampai pada titik kesadaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti yang dikatakankan oleh Sitor Situmorang bahwa orang Indonesia ’malas’ untuk mencari padanan kata dan istilah asing, istilah yang ada diserap mentah-mentah. Hal ini ditegaskan lagi oleh pernyataan Franz Magnis Suseno S.J., menurutnya salah satu faktor yang menyebabkan rata-rata orang Indonesia buruk dalam berbahasa Indonesia adalah sifat malas berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat dan benar sesuai kaidah dalam bahasa Indonesia. Keadaan ini menyebabkan bahasa Indonesia mengalami perkembangn  yang tidak menggembirakan. Bila sikap ini tidak segera diubah maka bukan tidak mungkin kedepannya bahasa Indonesia akan menjadi bahasa pasaran yang tidak memiliki identitas.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Meluapnya Bahasa Eufisme dan Sarkasme</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Satu lagi yang menyebabkan bahasa Indonesia semakin terpuruk adalah banyaknya penggunaan bahasa-bahasa eufisme yang berbau muatan politis dan merebaknya bahasa-bahasa sarkaseme yang membuat citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tidak bermoral. Para politisi yang menggunakan bahasa eufisme untuk mengalihkan perhatian rakyat pada kenyataan sesungguhnya menyebabkan bangsa Indonesia menjadi karakter bangsa pembohong. Bagaimana tidak ketika bahasa dijadikan jembatan untuk menipu rakyat. Lalu korelasinya dimana. Pemimpin dalam hal ini pemerintah adalah cermin dari karakter bangsa. Jadi setiap tindakan dan perbuatan mereka akan menjadi contoh bagi siapapun yang dipimpinnya. Satu lagi yang amat memperihatinkan adalah bahasa sarkasme, yaitu bahasa-bahasa kasar yang digunakan untuk menghujat orang atau lembaga lain seperti Ungkapan-ungkapan maling, preman politik, biang kerok, Presiden segera dibawa ke Psikiater, Presiden bohong, gak dadi presiden gak pathe’en, Presiden Tak Jewer, negeri seperti keranjang sampah, institusi busuk dan sebagainya muncul di kalangan politisi negeri ini</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Krisis berbahasa ini bukan timbul dengan sendirinya. Ada faktor-faktor yang menyebabkan sikaf negatif berbahasa ini terjadi. Faktor-faktor itu antara lain ; 1) Era globalisasi yang tidak terbendung yang menyebabkan bahasa terpengaruh secara global. Pengaruh global ini menyebabkan bahasa kehilangan identitasnya yang orisinil sebagai produk budaya. 2) Kemalasan berfikir sebagai sebuah karakter yang dihasilkan dari pengguna bahasa yang menggunakan bahasa <em>“asal nyambung”</em>. 3) Tuntutan dunia kerja menjadi salah satu faktor yang membuat pengguna bahasa Indonesia berlomba-lomba menguasai bahasa asing dan melupakan bahasa sendiri. 4) Sikap rendah diri sebagai anak bangsa dan cendrung bangga akan hal-hal berbau luar negeri merupakan salah satu faktor yang dalam berbahasa secara negatif. 5) Kemiskinan moral sebagai dampak dari kurangnya penanaman nilai-nilai pancasila.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Kelima faktor itu tentunya merupakan serangkaian masalah yang komplek. Artinya untuk menyelesaikan masalah itu diperlukan strategi yang matang dan terarah. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik, bahasa yang memiliki ciri khas dan identitas. Untuk itu secara bersama-sama kita harus bersama-sama membangun kembali bahasa yang Indonesia yang berciri khas dan beridentitas guna membangun karakter bangsa yang benar-benar menunjukkan kita sebagai sebuah bangsa beradab dan memiliki nilai-nilai yang luhur. Adapun faktor-faktor yang akan membuat kita menjadi bangsa yang berkarakter melalui penggunaan bahasa adalah dengan cara menamkan sikap positif berbahasa. Sikap positif berbahasa itu perlu dilakukan agar kita memiliki cerminan karakter bangsa melalui bahasa. Dengan sikap positif berbahasa karakter bangsa yang berbudi luhurpun akan terbentuk.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut adalah kekhasan dan keunikan bahasa Indonesia yang mencerminkan jati diri bangsa yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bahasa mandiri dan Bangsa yang mandiri</li>
</ol>
<p style="padding-left:60px;">A. Berbeda dengan bahasa asing</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">1)      Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata untuk menyatakan jenis kelamin. Bila kita ingin menyatakan jenis kelamin, cukup diberikan kata keterangan jenis kelamin, misalnya:</p>
<blockquote>
<ul style="text-align:justify;padding-left:60px;">
<li>Untuk manusia digunakan kata laki-laki atau pria dan perempuan atau wanita.</li>
<li>Untuk hewan dipergunakan kata jantan dan betina.</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Dalam bahasa asing (misalnya bahasa Ingris, bahasa Arab, dan bahasa Sanskerta) untuk menyatakan jenis kelamin digunakan dengan cara perubahan bentuk.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Contoh:</p>
<ul style="text-align:justify;padding-left:60px;">
<li>Bahasa Inggris           : lion – lioness, host – hostess, steward -stewardness.</li>
<li>Bahasa Arab               : muslimi – muslimat, mukminin – mukminat, hadirin – hadirat</li>
<li>Bahasa Sanskerta     : siswa – siswi, putera – puteri, dewa – dewi.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Meski ada beberapa kata dari bahasa Arab dan bahasa Sanskerta yang diserap kedalam bahasa Indonesia seperti muslimin, muslimat, siswa dan siswi tidak mengubah jati diri bahasa Indonesia karena penyerapannya berbentuk leksikal bukan sistem perubahannya. Jadi sistem perubahan dari kedua bahasa tersebut tidak diserap atau tidak digunakan dalam kaidah bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">2)      Bahasa Indonesia mempergunakan kata tertentu untuk menunjukkan jamak. bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata untuk menyatakan jamak. Sistem ini pulalah yang membedakan bahasa Indonesia dengan bahasa asing lainnya, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa lain. Untuk menyatakan jamak, antara lain, mempergunakan kata segala, seluruh, para, semua, sebagian, beberapa, dan kata bilangan dua, tiga, empat, dan seterusnya; misalnya: segala urusan, seluruh tenaga, para siswa, semua persoalan, sebagian pendapat, beberapa anggota, dua teman, tiga pohon, empat mobil.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Bentuk boy dan man dalam bahasa Inggris yang berubah menjadi boys dan men ketika menyatakan jamak, tidak pernah dikenal dalam bahasa Indonesia. Bentuk bukus (jamak dari kata buku), mahasiswas (jamak dari mahasiswa), dan penas (jamak dari pena), misalnya, tidak dikenal dalam bahasa Indonesia karena memang bukan kaidah bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">3)      Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata untuk menyatakan waktu. Kaidah pokok inilah yang juga membedakan bahasa Indonesia dengan bahasa asing lainnya. Dalam bahasa Inggris,misalnya, kita temukan bentuk kata eat (untuk menyatakan sekarang), eating (untuk menyatakan sedang), dan eaten (untuk menyatakan waktu lampau). Bentukan kata seperti ini tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia. Bentuk kata makan tidak pernah mengalamai perubahan bentuk yang terkait dengan waktu, misalnya menjadi makaning (untuk menyatakan waktu sedang) atau makaned (untuk menyatakan waktu lampau). Untuk menyatakan waktu, cukup ditambah kata-kata aspek akan, sedang, telah, sudah atau kata keterangan waktu kemarin, seminggu yang lalu, hari ini, tahun ini, besok, besok lusa, bulan depan, dan sebagainya</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">4)      Susunan kelompok kata dalam bahasa Indonesia biasanya mempergunakan hukum D-M (hukum Diterangkan – Menerangkan), yaitu kata yang diterangkan (D) di muka yang menerangkan (M). Kelompok kata rumah sakit, jam tangan, mobil mewah, baju renang, kamar rias merupakan contoh hukum D-M ini. Oleh karena itu, setiap kelompok kata yang diserap dari bahasa asing harus disesuaikan dengan kaidah ini. Dengan demikian, bentuk-bentuk Garuda Hotel, Bali Plaza, International Tailor, Marah Halim Cup, Jakarta Shopping Center yang tidak sesuai dengan hukum D-M harus disesuaikan menjadi Hotel Garuda, Plaza Bali, Penjahit Internasional, Piala Marah Halim, dan Pusat Perbelanjaan Jakarta. Saya yakin, penyesuaian nama ini tidak akan menurunkan prestise atau derajat perusahaan atau kegiatan tersebut. Sebaliknya, hal inilah yang disebut dengan penggunaan bahasa Indonesia yang taat asas, baik dan benar.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">B. Kata serapan yang matang</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;">Mungkin benar bahwa bahasa Indonesia adalah berasal dari serapan bahasa asing dan bahasa daerah. Tapi dalam proses penyerapannya tidak menggunakan metode yang asal. tidaklah mungkin kita menyatakan kuda betina dengan bentuk kudi atau kudarat; domba betina dengan bentuk kata dombi atau dombarat. Untuk menyatakan jenis kelamin tersebut dalam bahasa Indonesia, cukup dengan penambahan jantan atau betina, yaitu kuda jantan, kuda betina, domba jantan, domba betina. Oleh karena itu, kaidah yang berlaku dalam bahasa Arab dan bahasa Sanskerta, dan juga bahasa Inggris tidan bisa diterapkan ke dalam kaidah bahasa Indonesia. Kalau dipaksakan, tentu struktur bahasa Indonesia akan rusak, yang berarti jati diri bahasa Indonesia akan terganggu.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Konstruksi yang ramah</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Jati diri bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, Tatabahasanya mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Setiap bangsa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dapat menguasai dalam waktu yang cukup singkat. Namun, kesederhaan dan ketidakrumitan tersebut tidak mengurangi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pergaulan dan dunia kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran-pikiran yang rumit dalam ilmu pengetahuan dengan jernih, jelas, teratur, dan tepat. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahkan, bahasa Indonesia pun saat ini menjadi bahan pembelajaran di negara-negara asing seperti Australia, Belanda, Jepanh, Amerika Serikat, Inggris, Cina, dan Korea Selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Bahasa yang berprinsip dan bangsa yang berprinsip</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">a. Bahasa lisan (bahasa baku)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;">Bahasa Indonesia juga mengenal lafal baku, yaitu lafal yang tidak dipengaruhi oleh lafal asing dan/atau lafal daerah. Apabila seseorang menggunakan bahasa Indonesia lisan dan lewat lafalnya dapat diduga atau dapat diketahui dari suku mana ia berasal,maka lafal orang itu bukanlah lafal bahasa Indonesia baku. Dengan kata lain, kata-kata bahasa Indonesia harus bebas dari pengaruh lafal asing dan/atau lafal daerah. Kesulitan yang dialami oleh sebagian besar pemakai bahasa Indonesia adalah sampai saat ini belum disusun kamus lafal bahasa Indonesia yang lengkap. Akibatnya, sampai sekarang belum ada patokan yang jelas untuk pelafalan kata peka, teras, perang, sistem, elang. Tetapi, pengucapan semangkin (untuk semakin), mengharapken (untuk mengharapkan), semua (untuk semua), mengapa (untuk mengapa), thenthu (untuk tentu), therima kaseh (untuk terima kasih), mBandung (untuki Bandung), dan nDemak (untuk Demak) bukanlah lafal baku bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">b. Bahasa tulisan (Ejaan yang disempurnakan)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan </span><span style="color:#000000;">Bahasa Indonesia</span><span style="color:#000000;"> yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, </span><span style="color:#000000;">Ejaan Republik</span><span style="color:#000000;"> atau </span><span style="color:#000000;">Ejaan Soewandi</span><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">Pada </span><span style="color:#000000;">23 Mei</span> <span style="color:#000000;">1972</span><span style="color:#000000;">, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran </span><span style="color:#000000;">Malaysia</span><span style="color:#000000;"> pada masa itu, </span><span style="color:#000000;">Tun Hussien Onn</span><span style="color:#000000;"> dan </span><span style="color:#000000;">Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia</span><span style="color:#000000;">, </span><span style="color:#000000;">Mashuri</span><span style="color:#000000;">. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal </span><span style="color:#000000;">16 Agustus</span> <span style="color:#000000;">1972</span><span style="color:#000000;">, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku &#8220;Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan&#8221; dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan &#8220;Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">&#8216;tj&#8217; menjadi &#8216;c&#8217; : tjutji → cuci</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">&#8216;dj&#8217; menjadi &#8216;j&#8217; : djarak → jarak</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">&#8216;j&#8217; menjadi &#8216;y&#8217; : sajang → sayang</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">&#8216;nj&#8217; menjadi &#8216;ny&#8217; : njamuk → nyamuk</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">&#8216;sj&#8217; menjadi &#8216;sy&#8217; : sjarat → syarat</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">&#8216;ch&#8217; menjadi &#8216;kh&#8217; : achir → akhir</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">awalan &#8216;di-&#8217; dan kata depan &#8216;di&#8217; dibedakan penulisannya. Kata depan &#8216;di&#8217; pada contoh &#8220;di rumah&#8221;, &#8220;di sawah&#8221;, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara &#8216;di-&#8217; pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">Sebelumnya &#8220;oe&#8221; sudah menjadi &#8220;u&#8221; saat </span><span style="color:#000000;">Ejaan Van Ophuijsen</span><span style="color:#000000;"> diganti dengan </span><span style="color:#000000;">Ejaan Republik</span><span style="color:#000000;">. Jadi sebelum EYD, &#8220;oe&#8221; sudah tidak digunakan.</span></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><span style="color:#000000;">Untuk penjelasan lanjutan tentang penulisan </span><span style="color:#000000;">tanda baca</span><span style="color:#000000;">, dapat dilihat pada </span><span style="color:#000000;">Penulisan tanda baca sesuai EYD</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Bahasa nasionalis dan bangsa yang bersatu</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Bahasa Indonesia dikenal secara luas sejak “Soempah Pemoeda”, 28 Oktober 1928, yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pada saat itu para pemuda sepakat untuk mengangkat bahasa Melayu-Riau sebagai bahasa Indonesia. Para pemuda melihat bahwa bahasa Indonesialah yang berpotensi dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan suku vangsa atau etnik. Pengangkatan status ini ternyata bukan hanya isapan jempol. Bahasa Indonesia bisa menjalankan fungsi sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia rasa kesatuan dan persatuan bangsa yang berbagai etnis terpupuk. Kehadiran bahasaIndonesia di tengah-tengah ratusan bahasa daerah tidak menimbulkan sentimen negatif bagi etnis yang menggunakannya. Sebaliknya, justru kehadiran bahasa Indonesia dianggap sebagai pelindung sentimen kedaerahan dan sebagai penengah ego kesukuan.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing, bahasa Indonesia justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu tanpa meinggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa etnik yang bersangkutan. Bahkan, lebih dari itu, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini, kepentingan nasional diletakkan jauh di atas kepentingan daerah dan golongan.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda berpotensi untuk menghambat perhubungan antardaerah antarbudaya. Tetapi, berkat bahasa Indonesia, etnis yang satu bisa berhubungan dengan etnis yang lain sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Setiap orang Indonesia apa pun latar belakang etnisnya dapat bepergian ke pelosok-pelosok tanah air dengan memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Kenyataan ini membuat adanya peningkatan dalam penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia dalamn fungsinya sebagai alat perhubungan antardaerah antarbudaya. Semuanya terjadi karena bertambah baiknya sarana perhubungan, bertambah luasnya pemakaian alat perhubungan umum, bertambah banyaknya jumlah perkawinan antarsuku, dan bertambah banyaknya perpindahan pegawai negeri atau karyawan swasta dari daerah satu ke daerah yang lain karena mutasi tugas atau inisiatif sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mulau dikenal sejak 17 Agustus 1945 ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dalam kedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional atau lambang kebangsaan. Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan. Melalui bahasa nasional, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia dipelihara dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Rasa kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia ini pun terus dibina dan dijaga oelh bangsa Indonesia. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera nasional, Merah Putih, dan lagu nasional bangsa Indonesia, Indonesia Raya. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri sehingga serasi dengan lambang kebangsaan lainnya. Bahasa Indonesia dapat mewakili identitasnya sendiri apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain, yang memang benar-benar tidak diperlukan, misalnya istilah/kata dari bahasa Inggris yang sering diadopsi, padahal istilah.kata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Bahasa ilmu pengetahuan dan bangsa yang berilmu pengetahuan</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Akibat pencantuman bahasa Indonesia dalam Bab XV, Pasal 36, UUD 1945, bahasa Indonesia pun kemudian berkedudukan sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu. Di samping sebagai bahasa negara dan bahasa resmi. Dalam hubungannya sebagai bahasa budaya, bahasa Indonesia merupakan satu-satunya alat yang memungkinkan untuk membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri dan identitas sendiri, yang membedakannya dengan kebudayaan daerah. Saat ini bahasa Indonesia dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan semua nilai sosial budaya nasional. Pada situasi inilah bahasa Indonesia telah menjalankan kedudukannya sebagai bahasa budaya. Di samping itu, dalam kedudukannya sebagai bahasa ilmu, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pendukung ilmu pengetahuna dan teknologi (iptek) untuk kepentingan pembangunan nasional. Penyebarluasan iptek dan pemanfaatannya kepada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan negara dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Penulisan dan penerjemahan buku-buku teks serta penyajian pelajaran atau perkuliahan di lembaga-lembaga pendidikan untuk masyarakat umum dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, masyarakat Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada bahasa-bahasa asing (bahasa sumber) dalam usaha mengikuti perkembangan dan penerapan iptek. Pada tahap ini, bahasa Indonesia bertambah perannya sebagai bahasa ilmu. Bahasa Indonesia oun dipakai bangsa Indonesia sebagai alat untuk mengantar dan menyampaian ilmu pengetahuan kepada berbagai kalangan dan tingkat pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Bahasa Indonesia berfungsi pula sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan terendah (taman kanak-kanak) sampai dengan lembaga pendidikan tertinggi (perguruan tinggi) di seluruh Indonesia, kecuali daerah-daerah yang mayoritas masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Di daerah ini, bahasa daerah boleh dipakai sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan tingkat sekolah dasar sampai dengan tahun ketiga (kelas tiga). Setelah itu, harus menggunakan bahasa Indonesia. Karya-karya ilmiah di perguruan tinggi (baik buku rujukan, karya akhir mahasiswa – skripsi, tesis, disertasi, dan hasil atau laporan penelitian) yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, menunjukkan bahwa bahasa Indonesia telah mampu sebagai alat penyampaian iptek, dan sekaligus menepis anggapan bahsa bahasa Indonesia belum mampu mewadahi konsep-konsep iptek.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Bahasa budaya dan bangsa yang berbudaya</p>
<ol style="text-align:justify;padding-left:60px;"></ol>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mulau dikenal sejak 17 Agustus 1945 ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dalam kedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional atau lambang kebangsaan. Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan. Melalui bahasa nasional, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia dipelihara dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Rasa kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia ini pun terus dibina dan dijaga oelh bangsa Indonesia. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera nasional, Merah Putih, dan lagu nasional bangsa Indonesia, Indonesia Raya. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri sehingga serasi dengan lambang kebangsaan lainnya. Bahasa Indonesia dapat mewakili identitasnya sendiri apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain, yang memang benar-benar tidak diperlukan, misalnya istilah/kata dari bahasa Inggris yang sering diadopsi, padahal istilah.kata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Sejalan dengan fungsinya sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya, bahasa Indonesia telah berhasil pula menjalankan fungsinya sebagai alat pengungkapan perasaan. Kalau beberapa tahun yang lalu masih ada orang yang berpandangan bahwa bahasa Indonesia belum sanggup mengungkapkan nuansa perasaan yang halus, sekarang dapat dilihat kenyataan bahwa seni sastra dan seni drama, baik yang dituliskan maupun yang dilisankan, telah berkembang demikian pesatnya. Hal ini menunjukkan bahwa nuansa perasaan betapa pun halusnya dapat diungkapkan secara jelas dan sempurna dengan menggunakan bahasa Indonesia. Kenyataan ini tentulah dapat menambah tebalnya rasa kesetiaan kepada bahasa Indonesia dan rasa kebanggaan akan kemampuan bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">*) Bahan dalam tulisan ini diambil dari berbagai sumber</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=116&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2011/01/04/melihat-jati-diri-bangsa-melalui-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asemmanis.files.wordpress.com/2011/01/bhasa-indo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bhasa indo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angkutan Kota Yang Terakhir</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2010/04/03/106/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2010/04/03/106/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 14:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Angkotan kota]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hasan sadili]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/2010/04/03/106/</guid>
		<description><![CDATA[Malam belum begitu larut masih sekitar jam 8. Tapi angkot yang akan menuju rumahku sudah jarang yang melintasi kalaupun ada angkotnya penuh. Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku menunggu angkot yang akan membawa aku kerumah. Beginilah setiap hari aku pulang sekolah harus sampai larut malam. Ini karena jadwal disekolah ku padat sekali dan jarak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=106&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Malam belum begitu larut masih sekitar jam 8. Tapi angkot yang akan menuju rumahku sudah jarang yang melintasi kalaupun ada angkotnya penuh. Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku menunggu angkot yang akan membawa aku kerumah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beginilah setiap hari aku pulang sekolah harus sampai larut malam. Ini karena jadwal disekolah ku padat sekali dan jarak sekolahku yang memang jauh. Dalam balutan malam yang gelap aku berdiri dipinggir jalan sendiri, ya hanya sendiri sampai seseorang yang selaluku nanti kehadirannya datang dan bersamaku menunggu angkot.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Seseorang, aku tak tahu siapa namanya, dari mana dia berasal dan akan kemana dia pergi, kami memang belum pernah berkomunikasi. Tampangnya tenang dan tak pernah berbasa-basi sepertinya tapi meski begitu kehadirannya membuat aku merasa aman. begitulah malam-malam ku berlalu bersama seseorang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Aku ingin sekali mengenalnya. Tapi gengsi ah masa iya wanita duluan. Aku tidak mau disebut wanita agresif. Makanya meski banyak malam kami  lalui tiada sepatah kata yang menghiasi kebersamaan kami. Tapi  walau begitu dia ramah, dia selalu tersenyum manis, dia gagah karena aku merasa terlindungi. Pernah suatu ketika aku menunggu sendiri. Tempatnya sama disini. Ada dua orang laki-laki duduk di sebelahku. Seperti di film-film mereka mencoba mengajakku kencan dan merayu. Lalu datang dia. Dia berdiri dengan tenangnya. Lalu entah kenapa kemudian dua laki-laki itu pergi. Dari situlah aku merasa kehadirannya membuat aku aman dan merasa nyaman.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Saat pertemuan pertama kali disini ditempat ini.  Aku berdiri menunggu angkot dan dia juga berdiri menunggu angkot. Jarak aku dan dia ada lah sekitar 5 meter. Dan grafiknya jaraknya terus mengalami kedekatan. Waktu itu kita cuek-cuek saja.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Saat ini jarak aku dengannya sekitar 2 meter saja. Dia  selalu tersenyum. tapi komunikasi kita semu. Malam itu angkut terasa lama sekali. Aku lihat dia juga sudah lelah menunggu. Beberapa kali dia melihat jam di arloji tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bosan menunggu akhirnya dia pergi. Aku sedikit kecewa, ku pikir dia akan berjalan kaki karena bosan menunggu. Tapi pikirku salah beberapa saat dia kembali membawa sebungkus bakwan. ternyata dia lapar. Haha&#8230;. Lucu sekali  melikat dia kelaparan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Detik berikutnya dia mendekatiku. Aduh aku degdegan sermpat terbesit di benakku untuk mengambil cermin di dalam  tas dan menyisir rambutku. Tapi gak mungkin karna dia terlalu dekat. Akhirnya aku pasrah menampilkan diriku yang seadanya, biarlah dia mau berkata apa&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">“Mau&#8230;&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">“Laper Ya&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya&#8230;&#8230;.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Beneran nawarin ni”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, Ambil aja”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku lalu mengambil satu bakwan dari sebungkus bakwan yang dia sodorkan. Aku makan sedikit-sedikit, Biasalah jaga image. Aku gak mau dia menilai aku wanita yang rakus. Walaupun sebenarnya perut aku memang lagi ngamen ni&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">“Lagi”</p>
<p style="text-align:justify;">“Udah, cukup”</p>
<p style="text-align:justify;">Tak berapa lama sebuah angkot berhenti didepan kami. Angkotnya memang tidak kosong tapi cukuplah buat menampung kami berdua.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari yang melelahkan, dia tertidur di dalam angkot sampai aku turun dari angkotpun dia tetap tertidur aku tak berani membangunkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kejadian semalam membuat aku lebih bersemangat. Aku bertekat untuk lebih agresif dengannya. Aku akan bertanya banyak hal sama dia. Makanya supaya aku tidak lupa aku menulis daftar pertanyaan yang akan aku buat di buku catatan. Aku mau tanya namanya yang tak sempat ku tanyakan semalam , aku mau tanya tempat tinggalnya, dimana dia kerja, atau apa dia masih kuliah. Pokonya banyak hal yang akan kutanyakan. Menunggu memang hal yang menjenuhkan untuk sampai ke jam 8 malam dan kembali ke kegiatanku menunggu angkot seperti bertahun-tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dan waktu yang aku tunggupun tiba. Masih pada tempat dan jam yang sama aku berdiri tegak sambil menunggu. Bukan sekedar menunggu angkot tetapi menunggu dia. Berkali-kali aku ambil cermin dari dalam tasku untuk melihat penampilanku. Aku ingin malam ini gak ada yang salah dari wajahku. Berkali juga aku meratakan bedak di pipiku takut kalau bedaknya tak merata.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Waktu berlalu terus. Jam berjalan begitu cepat. Hal yang tak kusadari jam sudah menunjukkan jam 9 malam. 1 jam aku lalui hanya untuk mengotak-atik penampilanku. Tapi kemana dia. Dia belum datang juga. Biasanya jam 8 dia sudah sampai disini tapi sekarang dia belum datang juga. Waktu lagi-lagi berlari pergi sampai di jam 10 tiba.  Angkot yang terakhirpun sudah dihadapanku. Aku pun tak punya pilihan. Akupun naik bersama harapan kosong yang ku tinggalkan&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sejak malam itu, aku tak menemukan dia. Tak pernah menemukan dia. Aku tak tahu dia kemana dan aku tak tahu dia ada dimana. Jejaknya meninggalkan rasa dihatiku. Sebuah rasa yang tak pernah aku ungkapkan kepadanya. Entah dia tahu atau tidak. Kini harapanku adalah menemukan dia lagi. Walau entah kapan?.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=106&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2010/04/03/106/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGHILANGKAN VOKALISASI DALAM MEMBACA</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2010/02/04/menghilangkan-vokalisasi-dalam-membaca/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2010/02/04/menghilangkan-vokalisasi-dalam-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 08:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hasan sadili]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Solusi Membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Membaca sambil melafalkan kata-kata yang dibaca dikenal dengan istilah vokalisasi. Dengan cara ini kata-kata berupa tuliskan diwujudkan oleh vokal menjadi sebuah bunyi. Proses vokalisasi mirip dengan proses berbicara atau menyanyi. Membaca dengan melafalkan akan memiliki kecepatan yang kurang lebih setara dengan berbicara. Menurut pakar membaca cepat, kebiasaan membaca seperti ini disebabkan oleh kesalahan metode yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=83&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img src="/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/PHTO0062.JPG" alt="" /><img src="/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/PHTO0062.JPG" alt="" /><img src="/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/PHTO0062.JPG" alt="" /><a href="http://asemmanis.files.wordpress.com/2010/02/phto0062.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-86" title="PHTO0062" src="http://asemmanis.files.wordpress.com/2010/02/phto0062.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Membaca sambil melafalkan kata-kata yang dibaca dikenal dengan istilah <em><strong>vokalisasi</strong></em>. Dengan cara ini kata-kata berupa tuliskan diwujudkan oleh vokal menjadi sebuah bunyi. Proses vokalisasi mirip dengan proses berbicara atau menyanyi. Membaca dengan melafalkan akan memiliki kecepatan yang kurang lebih setara dengan berbicara. Menurut pakar membaca cepat, kebiasaan membaca seperti ini disebabkan oleh kesalahan metode yang kita gunakan ketika pada masa kecil belajar membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya metode Phonic yang memperkenalkan abjad dari A s.d. Z yang dilanjutkan dengan mengulang kata-kata. Ada juga metode Lokk say, misalnya kata “Budi” langsung disebut Budi. Biasanya guru bisa mengontrol dan mengoreksi pengucapan siswa. Menurut para ahli bahwa hal ini merupakan salah satu kendala dalam membaca cepat (speed reading), sehingga perlu dihindari.</p>
<p style="text-align:justify;">Kecepatan bicara kurang lebih 120 kata per menit. Dengan kecepatan seperti itu, membaca sebuah artikel terdiri dari dua halaman akan menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit. Cukup lambat dan memakan waktu yang panjang. Orang yang mampu berbicara cepat atau ahli debat dapat memiliki kecepatan bicara sampai 250 kata per menit. Walaupun demikian, kecepatan ini pun masih tergolong lambat. Jadi, jika kita membaca sambil bersuara, maka dapat dipastikan kecepatan membaca yang mungkin dicapai maksimal 250 kata per menit.</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca dan proses membaca bersuara merupakan hal yang berhubungan. Hubungannya sangat erat terutama pada orang yang sedang belajar membaca. Hal ini khususnya terjadi pada anak-anak yang sedang dalam tahap belajar membaca dengan belajar huruf atau kata-kata. Penerapan belajar membaca dengan ujar dan ulang ujar akan menjadikan kebiasaan membaca bersuara pada anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;">seseorang membaca sambil bersuara karena terbawa kebiasaan ketika belajar membaca dahulu. Pada saat seorang siswa masih belajar membaca, proses melafalkan kata-kata diperlukan untuk mengetahui apakah dia sudah mampu membaca atau belum. Akan tetapi setelah seseorang semakin dewasa, tentu cara tersebut tidak diperlukan lagi.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Alasan lain adalah secara alami memang kita senang men-<em>dikte</em>-kan kembali apa yang kita baca atau dengar untuk proses memahami dan mengulang. Dengan demikian, tidak mengherankan ada orang yang harus mengucapkan sesuatu keras-keras agar dapat menghafal. Atau ada orang yang harus membaca sambil bersuara baru bisa mengerti. Kita senang mendengarkan kembali apa-apa yang kita baca.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah membaca cepat ini penulis temukan pada siswa-siswi setingkat sekolah dasar di tempat penulis mengajar. Sebagian siswa-siswi yang duduk di kelas IV yang menjadi binaan penulis mengalami masalah dengan cara membaca. Kebiasaan membaca berujar dan tidak terbiasanya membaca di dalam hati menjadi pangkal permasalahan yang ingin diselesaikan oleh penulis dengan mencari solusi yang efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih ingatkah kita ketika pertama kali belajar membaca dulu? Ya, kita diajarkan untuk mengeja kata demi kata, suku kata demi suku kata.</p>
<p style="text-align:justify;">I-ni Bu-di</p>
<p style="text-align:justify;">I-ni I-bu Bu-di</p>
<p style="text-align:justify;">Dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Proses mengeja ini dilanjutkan dengan membaca kata demi kata dengan bersuara agak keras. Dengan demikian, akan diketahui apakah seorang siswa sudah lancar membaca atau belum.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian orang membawa kebiasaan membaca seperti ini sampai dewasa. Mata dan perhatiannya tertuju pada buku yang dibaca sedangkan mulut melafalkan kata demi kata, kalimat demi kalimat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebiasaan membaca seperti ini tentu akan menjadi hambatan tersendiri untuk siswa. Hambatan pertama siswa akan sulit membaca cepat atau speed reading. Padahal membaca cepat sangat penting dalam efektifitas waktu membaca. Dengan membaca cepat pembaca dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan waktu yang relatif singkat. Kebiasaan membaca sambil berujar tentu akan menghalangi siswa dalam belajar atau melakukan membaca secara cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Hambatan kedua siswa akan sulit untuk menelaah pokok informasi yang disampaikan dalam sebuah tulisan. Hal ini justru akan menghambat perkembangan pengetahuan siswa terhadap ilmu-ilmu baru yang di pelajarinya. Sulitnya memahami bacaan dengan berujar karena proses penerimaan informasi terhambat oleh gelombang suara yang menjadi titik konsentrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Hambatan ketiga siswa akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi siswa lain yang sudah terbiasa membaca dalam hati. Kebiasaan membaca bersuara pada satu anak tentu akan menimbulkan masalah yaitu hilangnya konsentrasi siswa lain dalam membaca. Hal ini justru merugikan orang lain, untuk itu kebiasaan membaca bersuara harus dihilangkan karena merugikan diri sendiri dan juga orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahan-permasalahan ini menjadi pokok penting bagi penulis untuk mencari apa solusi yang bisa dilakukan penulis agar siswa binaan penulis bisa terbiasa membaca dalam hati dan mengilangkan kebiasaan membaca sambil berujar. Dalam hal ini penulis mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mendapatkan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah membaca bersuara pada anak-anak ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam mencari solusi permasalahan membaca bersuara pada anak ini penulis mencari berbagai referensi dan sumber-sumber pengetahuan tentang membaca baik itu dari buku, berbagai artikel baik cetak maupun elektronik. Dari hasil peneleusuran tersebut penulis mendapatkan berbagai macam solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah vokalisasi dalam membaca pada anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Vokalisasi dapat dihilangkan jika sadar kapan kita melakukannya dan segera menghentikan saat itu juga. Cara termudah dan praktis adalah dengan meletakkan pensil atau ballpoint diantara kedua bibir ketika membaca. Jika kita melakukan vokalisasi baik bersuara atau tidak, otomatis pensil atau ballpoint tersebut akan jatuh. Ini berfungsi untuk menyadarkan bahwa kita masih melafalkan kata. Hindari hal tersebut dan teruslah berlatih.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun jenis pelafalan lain dalam bentuk lebih halus adalah mengucapkan tidak dengan suara maupun gerakan bibir, melainkan membaca dalam hati. Ini dikenal dengan istilah <strong>sub-vokalisasi</strong>. Kebiasaan ini termasuk yang paling sulit dihilangkan. Bahkan seorang pembaca cepat yang sudah mampu membaca dua sampai tiga kali rata-rata orang normal biasanya masih membawa kebiasaan tersebut. Para ahli berbeda pendapat tentang sub-vokalisasi. Sebagian mengatakan hal tersebut tidak mungkin dihilangkan dan secara alami pasti akan tetap ada walaupun sangat halus. Sedangkan sebagian lain menyebutkan sub-vokalisasi adalah hambatan yang harus dihilangkan jika ingin membaca jauh lebih cepat lagi. Insya Allah hal ini akan kita bahas dalam tulisan berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=83&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2010/02/04/menghilangkan-vokalisasi-dalam-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asemmanis.files.wordpress.com/2010/02/phto0062.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">PHTO0062</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keterampilan Menyimak</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/13/keterampilan-menyimak/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/13/keterampilan-menyimak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 00:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[menyimak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dalam hal ini dibagi menjadi empat segi yaitu: Keterampilan menyimak (listening skills) Keterampilan berbicara (speaking skiils) Keterampilan membaca (reading skills) Keterampilan menulis (writing skills) Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=73&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dalam hal ini dibagi menjadi empat segi yaitu:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Keterampilan      menyimak (listening skills)</li>
<li>Keterampilan      berbicara (speaking skiils)</li>
<li>Keterampilan      membaca (reading skills)</li>
<li>Keterampilan      menulis (writing skills)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang terakhir mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut diatas pada dasarnya merupakan satu kesatuan dan catur tunggal.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendapat keterampilan yang lebih jelas, maka berikut ini akan dibahas sepintas kilas hubungan antara keempat keterampilan itu.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>Menyimak dan Berbicara</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung merupakan komunikasi tatap muka atau face to face cominication. (Brooks, 1964:134).</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata dari hal-hal berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">1. Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi), oleh karena itu model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">2. Kata-kata yang akan dipakai serta kita pelajari biasanya ditentukan oleh pengarang (stimuli) yang ditemui, misalnya: kehidupan desa,kota dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian gagasan-gagasanya.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">3.Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">4. Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">5. Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penagkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>Menyimak dan Membaca</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Menyimak dan membaca mempunyai persamaan, kedua-duanya bersifat reseprif, bersifat menerima. Bedanya menyimak adalah menerima informasi dari sumber lisan, sedangkan membaca menerima informasi dari sumber tertulis. Dengan kata lain menyimak menerima informasi dari perkataan berbicara, sedangkan membaca menerima informasi dari kegiatan menulis.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">Keterampilan menyimak juga merupakan faktor penting bagi keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau para ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan antara membaca dengan menyimak sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">a. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan sang siswa untuk menyimak dengan pemahaman.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">b. Menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (varbilized learning)</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">c. Para siswa membutuhkan bimbingan dalam belajar menyimak lebih efektif dan lebih teratur lagi agar hasil pengajaran itu baik.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">d. Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">e. Pembeda-bedaan atau diskriminasi pendengaran yang jelek sering kali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu faktor pendukung atau faktor tambahan dalam ketidakmampuan membaca (poor reading)</p>
<p style="text-align:justify;">Selagi keterampilan-keterampilan menyimak dan membaca erat berhubungan, maka peningkatan pada yang satu huruf pula menimbulkan peningkatan pada yang lain, kedua-keduanya merupakan proses yang saling mengisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya seorang pakar lain mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">*.Baik membaca maupun menyimak menuntut dari para siswa pemilikan suatu kesiapan kecakapan. Hal ini mencakup kedewasaan mental, kosa kata kemampuan mengikuti urutan ide-ide, dan minat terhadap bahasa</p>
<p style="text-align:justify;">*.Baik dalam membaca maupun menyimak biasanya kata bukanlah merupakan kesatuan pemahaman terhadap frase,kalimat,dan paragraph.</p>
<p style="text-align:justify;">* Membaca maupun menyimak dapat berlangsung dalam situasi-situasi individual atau social.</p>
<p style="text-align:justify;">* Untuk meningkatkan hasil yang hendak dicapai dalam membaca, maka seyogianyalah setiap keterampilan menyimak diikuti oleh kegiatan membaca yang sesuai dengan tujuan menyimak tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun hubungan antara tujuan menyimak dan kegiatan membaca yaitu:</p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="280" valign="top">Tujuan Menyimak</td>
<td width="280" valign="top">Kegiatan Membaca</td>
</tr>
<tr>
<td width="280" valign="top">Untuk membedakan dan menemukan</p>
<p>Unsure-unsur fonetik dan struktur kata   lisan.</td>
<td width="280" valign="top">Mempergunakan cuplikan-cuplikan yang   mengandung kata-kata yang bersajak.</td>
</tr>
<tr>
<td width="280" valign="top">Untuk menemukan dan memperkenalkan   bunyi-bunyi, kata-kata, atau ide-ide baru kepada penyimak.</td>
<td width="280" valign="top">Membaca nyaring, langsung atau   buatan,dalam hal ini rekaman dapat digunakan.</td>
</tr>
<tr>
<td width="280" valign="top">Menyimak serta terperinci agar dapat mengiterprestasikan ide   pokok dan menanggapinya secara tepat.</td>
<td width="280" valign="top">Sesudah menyimak, menunjukkan ide-ide   beserta detail-detai yang terpancar darinya.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berbicara dan Membaca</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perkembangan kecakapan lisan dengan kesiapan membaca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut memperlengkapi suatu latar belakang pengalaman yang menguntungkan serta ketentraman bagi pengajar membaca. Kemampuan tersebut mencakup ujaran yang jelas dan lancer. Kosa kata yang luas dan beraneka ragam. Penggunaan-penggunaan kalimat lengkap dan sempurna bila diperlukan, pembedaan pandangan yang tepat, dan kemampuan mengikuti serta menelusuri perkembangan urutan suatu cerita atau menghubungkan aneka kejadian dalam urutan yang wajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Aneka hubungan antara bidang kegiatan lisan dan membaca telah dapat kita ketahui dalam beberapa telaah penelitian antara lain:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Penformansi      atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan.</li>
<li>Polo-pola      ujaran orang yang tuna aksara atau buta huruf mungkin sekali mengganggu      pelajaran membaca bagi siswa-siswi.</li>
<li>Kosa      kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung,      andaikata muncul kata-kata baru dalam buku bacaan siswa, maka hendaklah      guru mendiskusikannya dengan siswa agar mereka memahami maknanya sebelum      mereka mulai membacanya.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">D .Ekpresi Lisan dan Ekspresi Tulisan</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah wajar bila komunikasi lisan dan komunikasi tulisan erat sekali berhubungan karena keduanya mempunyai banyak kesejajaran bahkan kesamaan, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">v Seorang siswa belajar berbicara jauh sebelumnya dia dapat menulis, dan kosa kata, pola-pola kalimat, serta organisasi ideide yang memberi ciri-ciri kepada ujarannya merupakan dasar bagi ekspresi tulis berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">v Aneka perbedaan pun terdapat antara komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Ekspresi lisan cenderung kea rah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetep, tetapi biasanya lebih kacau serta membingungkan dibandingkan ekspresi tulis. Kebanyakan pidato atau pembicaraan bersifat informal, dan sering kali kalimat-kalimat orang yang berpidato atau yang berbicara itu tidak ada hubungannya satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">v Membuat catatan serta merakit bagan atau kerangka ide-ide yang akan disampaikan pada suatu pembicaraan akan menolong kita untuk mengutarakan ide-ide tersebut kepada para pendengar. Biasanya bagan yang dipakai sebagai pedoman dalam berbicara sudahlah cukup memadai kecuali dalam kasus laporan formal dan terperinci yang memerlukan penulisamn naskah yang lengkap sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Agar kita mendapat gambaran yang jelas mengenai keempat jenis keterampilan berbahasa tersebut serta hubungannya satu sama lain, marilah kita perhatikan dibawah ini;</p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="607">
<tbody>
<tr>
<td width="148" valign="top">Langsung</td>
<td width="148" valign="top"></td>
<td width="148" valign="top"></td>
<td width="164" valign="top">Langsung</td>
</tr>
<tr>
<td width="148" valign="top">Apresiatif</td>
<td width="148" valign="top"></td>
<td width="148" valign="top">Komunikasi</td>
<td width="164" valign="top">Berbicara produktif</td>
</tr>
<tr>
<td width="148" valign="top">Reseptif</td>
<td width="148" valign="top">Menyimak</td>
<td width="148" valign="top">Tatap muka</td>
<td width="164" valign="top">Ekspretif</td>
</tr>
<tr>
<td width="148" valign="top">Fungsional</td>
<td width="148" valign="top"></td>
<td width="148" valign="top"></td>
<td width="164" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="148" valign="top"></td>
<td width="148" valign="top"></td>
<td width="148" valign="top">Keterampilan Berbahasa</td>
<td width="164" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="148" valign="top">
<p align="center">Tak langsung produktif</p>
<p align="center">ekspresif</p>
</td>
<td width="148" valign="top">
<p align="center">Menulis</p>
</td>
<td width="148" valign="top">
<p align="center">Komunikasi tidak tatap muka</p>
</td>
<td width="164" valign="top">
<p align="center">Tak langsung</p>
<p align="center">Membaca, afresiatif, reseptif</p>
<p align="center">Fungsional</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong>KESIMPULAN DAN PENUTUP</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara beraneka ragam.</li>
<li>keterampilan bahasa yang dalam bahasa inngris disebut “language (art and skills)” istilah art “seni,kiat” dipergunakan untuk melukiskan sesuat yang bersifat personal, kreatif, dan original. Sebaliknya kata skills “keterampilan” dipakai untuk menyatakan sesyatu yang bersifat mekanis,eksak, impersonal.</li>
<li>menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat intuk menerima komunikasi.</li>
<li>beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perkembangan kecakapan berbahasa lisan dengan kesiapan membaca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut memperlengkapi suatu latar belakang pengalaman yang menguntungkan serta ketentraman bagi pengajaran membaca.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=73&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/13/keterampilan-menyimak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian Sastra Secara Umum dan Menurut Para Ahli</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 13:22:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[ahli sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hasan sadili]]></category>
		<category><![CDATA[Pengertian Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Sastra Dalam Pengertian Umum Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti &#8220;teks yang mengandung instruksi&#8221; atau &#8220;pedoman&#8221;, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti &#8220;instruksi&#8221; atau &#8220;ajaran&#8221; dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada &#8220;kesusastraan&#8221; atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Yang agak bias [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=58&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-69" title="musikalisasi-puisi" src="http://asemmanis.files.wordpress.com/2009/10/musikalisasi-puisi.jpg?w=614" alt="musikalisasi-puisi"   /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sastra Dalam Pengertian Umum</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti &#8220;teks yang mengandung instruksi&#8221; atau &#8220;pedoman&#8221;, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti &#8220;instruksi&#8221; atau &#8220;ajaran&#8221; dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada &#8220;kesusastraan&#8221; atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sastra dibagi menjadi 2 yaitu Prosa dan Puisi, Prosa adalah karya sastra yang tidak terikat sedangkan Puisi adalah karya sastra yang terikat dengan kaidah dan aturan tertentu. Contoh karya Sastra Puisi yaitu Puisi, Pantun,  dan Syair sedangkan contoh karya sastra Prosa yaitu Novel, Cerita/Cerpen, dan Drama.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian Sastra Menurut Para Ahli</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mursal Esten (1978 : 9)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Semi (1988 : 8 )</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra. adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Panuti Sudjiman </strong><strong>(1986 : 68)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ahmad Badrun (1983 : 16)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain sebagai alai, dan bersifat imajinatif.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Engleton (1988 : 4)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra adalah karya tulisan yang halus (belle letters) adalah karya yang mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan, dijadikan ganjil.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Plato</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Aristoteles</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Robert Scholes (1992: 1)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sapardi (1979: 1) </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Taum (1997: 13)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif” atau “sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain”</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=58&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asemmanis.files.wordpress.com/2009/10/musikalisasi-puisi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">musikalisasi-puisi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sendiri..</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/24/sendiri/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/24/sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 00:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Menyebut keterasingan adalah teman dalam hidup memang bukan sekedar wacana Sejak asa tertinggal oleh belahan belahan kasih yang pergi adalah kerinduan yang tersisa Menyempatkan memanggil namamu sebelum mataku redup dan terbawa ke alam bawah sadar adalah makanan yang khas untuk disantap Dalam mimpipun ternyata aku tetap kehilangan sosok yang selama ini selalu membalut setiap tetes [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=55&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyebut keterasingan adalah teman</p>
<p>dalam hidup</p>
<p>memang bukan sekedar wacana</p>
<p>Sejak asa tertinggal oleh belahan belahan</p>
<p>kasih yang pergi</p>
<p>adalah kerinduan yang tersisa</p>
<p style="padding-left:30px;">Menyempatkan memanggil namamu</p>
<p style="padding-left:30px;">sebelum mataku redup</p>
<p style="padding-left:30px;">dan terbawa ke alam bawah sadar</p>
<p style="padding-left:30px;">adalah makanan yang khas untuk disantap</p>
<p>Dalam mimpipun</p>
<p>ternyata aku tetap kehilangan</p>
<p>sosok yang selama ini</p>
<p>selalu membalut setiap tetes airmata</p>
<p>yang mengalir di pipiku</p>
<p>sosok yang selama ini</p>
<p>selalu membuat hatiku terjaga dari kesedihan</p>
<p style="padding-left:30px;">Kini sendiri adalah sepi</p>
<p style="padding-left:30px;">yang membelenggu mimpi</p>
<p style="padding-left:30px;">menjadi khayalan masa lalu</p>
<p style="padding-left:30px;">kini sendiri adalah teman sejati</p>
<p style="padding-left:30px;">yang menemani di dalam mimpi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=55&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/24/sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabda Nirwana</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/24/sabda-nirwana/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/24/sabda-nirwana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 00:30:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[hasan sadili]]></category>
		<category><![CDATA[Sabda Nirwana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Sentuh sudut hatimu dengan tangan-tangan asa rasakan setiap nafas yang membacakan kalimat kasih terjemahkan bahasa cintanya dengan kamus bahasa nirwana tafsirkan dengan ilmu tentang ketulusan Rasakan lagi setiap jiwa yang bergetar tangkap dengan hati apa yang menjadi pesan pilih setiap kata yang bermakna dan artikan dengan penuh kesungguhan Lihatnlah ke arah mana mata memandang adakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=53&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sentuh sudut hatimu</p>
<p>dengan tangan-tangan asa</p>
<p>rasakan setiap nafas</p>
<p>yang membacakan kalimat kasih</p>
<p>terjemahkan bahasa cintanya</p>
<p>dengan kamus bahasa nirwana</p>
<p>tafsirkan dengan ilmu tentang ketulusan</p>
<p>Rasakan lagi setiap jiwa yang bergetar</p>
<p>tangkap dengan hati</p>
<p>apa yang menjadi pesan</p>
<p>pilih setiap kata yang bermakna</p>
<p>dan artikan dengan penuh kesungguhan</p>
<p>Lihatnlah ke arah mana mata memandang</p>
<p>adakah kuntum-kuntum bunga yang merekah</p>
<p>dibalik senyum penggembala yang  kehausan</p>
<p>Lihat lagi siapa yang bicara</p>
<p>perhatikan dengan sungguh</p>
<p>setiap nada, irama, dan suasana yang terkata</p>
<p>pastikan yang terlontar adalah bambu cinta</p>
<p>pastikan yang melayang adalah panah asmara</p>
<p>cintakah yang memberi kebahagiaan</p>
<p>maka sambutlah dengan penuh ketulusan</p>
<p>bila siapa bertanya cinta</p>
<p>katakan ini sabda nirwana</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=53&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/24/sabda-nirwana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIJRAHKAN AKU KE JALANMU</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/23/hijrahkan-aku-ke-jalanmu/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/23/hijrahkan-aku-ke-jalanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 13:06:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[hasan sadili]]></category>
		<category><![CDATA[Hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah…ya tuhanku… Lihatlah aku saat ini Penuh goresan pena Dan lumuran dosa Penuh kegundahan dan putus asa Bukan aku yang dulu Yang menangis memanggil ibu Yang menggumam memanggil ayah Yang kurasa tak berdosa Ya Allah ..Ya Rabbi… Aku tak sanggup lagi berjalan Dipundakku terlalu banyak beban Bukan sekedar beban pikulan Tapi beban dosa Ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=46&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Ya Allah…ya tuhanku…</p>
<p>Lihatlah aku saat ini</p>
<p>Penuh goresan pena Dan lumuran dosa</p>
<p>Penuh kegundahan dan putus asa</p>
<p>Bukan aku yang dulu</p>
<p>Yang menangis memanggil ibu</p>
<p>Yang menggumam memanggil ayah</p>
<p>Yang kurasa tak berdosa</p>
<p>Ya Allah ..Ya Rabbi…</p>
<p>Aku tak sanggup lagi berjalan</p>
<p>Dipundakku terlalu banyak beban</p>
<p>Bukan sekedar beban pikulan</p>
<p>Tapi beban dosa Ya Allah</p>
<p>Bukan aku yang dulu senang berlari</p>
<p>Meski sering terjatuh</p>
<p>Bukan aku yang dulu senang merangkak</p>
<p>Meski tak kuat</p>
<p>Kini aku manusia penuh dosa</p>
<p>Aku nista dan penuh cela</p>
<p>Maka ya Allah …</p>
<p>hanya satu pintaku saat ini..</p>
<p>Ya Allah ya Rabbi…</p>
<p>Hijrahkan aku ke jalanmu…</p>
<p>Agar siksamu nanti</p>
<p>tak terlampau berat untuk kulalui</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=46&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/23/hijrahkan-aku-ke-jalanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bila Ada</title>
		<link>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/23/bila-ada/</link>
		<comments>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/23/bila-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 12:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hasansadili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Bila Ada]]></category>
		<category><![CDATA[hasan sadili]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asemmanis.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Bila ada kuntum bunga yang mampu bicara tentang perasaan ini akan kupetik dia dan ku kirim kepadamu lewat angin yang berhembus Bila ada mutiara yang mampu mengungkap perasaan ini dengan keindahannya akan ku ambil dia dan kukirim kepadamu bersama perahu yang berlayar di pijak-pijak kehidupanku Bila Puisi ini bisa membuat kau mengerti tentang perasaan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=40&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Bila ada kuntum bunga</p>
<p style="text-align:left;">yang mampu bicara</p>
<p style="text-align:left;">tentang perasaan ini</p>
<p style="text-align:left;">akan kupetik dia</p>
<p style="text-align:left;">dan ku kirim kepadamu</p>
<p style="text-align:left;">lewat angin yang berhembus</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Bila ada mutiara</p>
<p style="text-align:left;">yang mampu</p>
<p style="text-align:left;">mengungkap perasaan ini</p>
<p style="text-align:left;">dengan keindahannya</p>
<p style="text-align:left;">akan ku ambil dia</p>
<p style="text-align:left;">dan kukirim kepadamu</p>
<p style="text-align:left;">bersama perahu yang berlayar</p>
<p style="text-align:left;">di pijak-pijak kehidupanku</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Bila Puisi ini</p>
<p style="text-align:left;">bisa membuat kau mengerti</p>
<p style="text-align:left;">tentang perasaan ini</p>
<p style="text-align:left;">Aku takkan ragu lagi</p>
<p style="text-align:left;">dan kukirim puisi ini</p>
<p style="text-align:left;">pada Merpati</p>
<p style="text-align:left;">yang kan hinggap</p>
<p style="text-align:left;">di jendela istanamu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asemmanis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asemmanis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asemmanis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asemmanis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asemmanis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asemmanis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asemmanis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asemmanis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asemmanis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asemmanis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asemmanis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asemmanis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asemmanis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asemmanis.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asemmanis.wordpress.com&amp;blog=9593166&amp;post=40&amp;subd=asemmanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asemmanis.wordpress.com/2009/09/23/bila-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fade76ddb6264baafd2f8ceac16cb4d7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hasansadili</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
